Eddy Rahmayadi Diminta Mundur, Alex Noerdin Punya Kans Kuat

0

Sumselterkini.com – Rentetan hasil buruk yang diterima tim nasional (Timnas) Sepak Bola Indonesia di berbagai ajang serta bobroknya kepengurusan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) membuat desakan mundur pada Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi kian menguat.

Tak terkecuali desakan mundur kepada Edy Rahmayadi dari kursi PSSI 1 datang dari legenda Timnas Sepak Bola Indonesia, Dede Sulaiman. Mantan pemain Persija Jakarta itu, cukup menyayangkan prestasi sepak bola tanah air saat ini semakin merosot saat diketuai oleh Edy Rahmyadi.

“Dengan carut marut PSSI saat ini, selama dipimpin oleh Pak Edy Rahmayadi, prestasinya belum ada. Mulai dari kegagalan-kegagalan Timnas Indonesia di beberapa ajang hingga targetnya saja di Asian Games tak terpenuhi. Ditambah lagi saat ini beliau tidak fokus mengurus federasi (PSSI),” ungkap Dede kepada Fajar Indonesia Networ (FIN), Jumat (7/12) kemarin.

Arti tidak fokus yang dimaksud oleh Dede adalah, Edy Rahmayadi sejak 5 September 2018, lalu resmi dilantik oleh Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo sebgai Gubnernur Sumatera Utara (Sumut).

Menurut Dede, kedua jabatan yang kini diemban mantan Pangkostrad itu harus dilakukan secara fokus dan komitmen. Oleh sebab itu, Dede menegaskan, bahwa seharusnya Edy Rahamyadi fokus di salah satu jabatan yang diembannya tersebut.

“Kenapa tidak fokus karena beliau (Edy, red) juga saat ini menjabart sebagai Gubernur di Sumut. Harus diketahui, Pak Edy harusnya memilih salah satu-lah dari kedua jabatan itu, karena kedua jabatan itu butuh figur orang yang fokus dan komitmen, karena apa? di PSSI khususnya di Sepak Bola itu butuh komit dan fokus karena memang sepak bola adalah olahraga yang dicintai oleh masyarakat Indonesia,” jelas Dede.

“Sedangkan di sisi lain, pak Edy juga menjabat sebagai Gubernur Sumut, dan persoalan dia disana juga kan pastinya juga cukup banyak, kalau menurut saya Pak Edy Rahmayadi harus legowo dan berbesar hati meninggalkan PSSI,” tegasnya.

Selain meminta Edy Rahamyadai mundur dari jabatannya sebagai Ketum PSSI, pria yang kini berusia 62 tahun itu juga meminta agar segera dilakukan Konres Luar Biasa (KLB) guna mengganti kepengurusan PSSI saat ini.

Karena menurutnya, PSSI dibawah kepemimpinan Edy Rahmayadi saat ini merupakan wajah lama yang harus dilakukan perubahan. Ia menjelaskan, jika hanya Edy Rahmayadi yang mundur, tentunya jabatan itu akan diambil alih oleh kepengerusan PSSI di bawahnya. Oleh sebab itu ia meminta agar diselenggarakannya KLB.

“Sampai sekarang ini, jika memang Pak Edy mundur pastinya akan digatikan oleh wakilnya, kalau menurut saya, sekarang ini harus kembali dilakukan Kongres Luar Biasa (KLB),” tuturnya.

“Karena apa? orang-orang dibawah Pak Edy meupakan produk lama, yang beberapa generasi (tidak perlu saya sebutkan yah) orang orang-orang itu sudah ada termasuk Exco, jadi memang kalau menurut saya lakukan lagi kongres luar biasa, karena menurut saya figur yang ada di PSSI yang sekarang menjabat ini tidak ada,” tamabahnya.

Ia mepertegas bahwa sosok yang pantas untuk menggantikan posisi Edy Rahmayadi saat ini adalah Alex Noerdin. Menurutnya, mantan Gubernur Sumatera Selatan itu merupakan sosok yang pantas untuk duduk di kursi Ketua Umum PSSI.

Menurut Dede, didoronya Alex Noerdin untuk menjabat sebgai ketum PSSI bukan tanpa sebab, pengalaman-pengalaman saat menjadi orang nomor satu di Sumsel dengan menggelar event-event olahraga nasional maupun internasional sudah tidak diragukan lagi.

Ya, di bawah kepempimpinan Alex Noerdin, Sumatera Selatan telah sukses menggelar berbagai ajang-ajang olahraga internasional. Terakhir ajang terbesar di Asia yakni Asian Games juga diselenggarakan di sana tepatnya di Palembang.

“Kalau saya, yang diluar dari federasi (PSSI), saya lebih cenderung kepada pak Alex Noerdin, karena beliau figur yang cocok untuk menjadi Ketua Umum PSSI. Di bawah kepemimpinannya, Pak Alex sukses menggelar event-event besar mulai dari PON hingga terakhir Asian Games,” terang Dede.

“Selain itu, Pak Alex juga memiliki jiwa olahraga yang cukup kuat, dan di organisasi juga beliau cukup baik. Kita sangat mendorong dia, dan mudah-mudahan beliau mau,” sambungnya.

Menurutnya, teman-teman legedan Timnas Indonesia lainnya juga akan setuju dengan rencannya mendorong Alex Noerdin untuk menjadi ketua umum PSSI. Hal itu dijelaskannya, karena ia menurutnya rekan-rekan legenda timna lainnya juga sudah pasti menilai hal yang sama tentang carut marut PSSI saat ini.

“Kalau yang lain (Legenda Timnas lainnya), karena melihat di PSSI saatini seperti apa dan figurnya juga tidak ada, saya rasa teman-teman juga bisa memahami semua. Kalau Pak Alex kita dukung, saya yakni teman-teman legenda juga paham semua,” tagasnya.

Dorongan ini sebenarnya sudah diungkapkan Dede Sulaiman langsung kepada Alex Noerdin di sela-sela jumpa wartawan terkait pagelaran puncak turnamen Alex Noerdin Cup 2019 di Hotel Century, Jakarta, 28 November 2018 lalu.

Namun dorongan tersebut tak mau diambil serius oleh Alex Noerdin. Menurutnya, perhelatan yang akan digelar di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, Palembang, pada 31 Maret 2019, mendatang dan dihadiri oleh legenda sepakbola Brasil, Ronaldinho Assis de Moreira atau lebih dikenal dengan Ronaldinho itu tidak ada maksud untuk dirinya mencari popularitas untuk menjadi ketua umum PSSI.

“Jujur olahraga saya sebenarnya bukan sepak bola, saya nggak bisa bermain sepak bola, olahraga saya, renang, diffing, berkuda, menembak dan pilot, tapi sepak bola saya senang. Namun saya tidak ada niat apapun, dan tidak ada maksud apapun dibalik pagelaran kejuaraan ini, saya tidak mencari popularitas, untuk menjadi ketum PSSI,” tutur Alex Noerdin.

Menurutnya, untuk bisa menjadi ketua umum PSSI yang merupakan induk dari cabang olahraga paling populer di Indonesia itu bukanlah perkara yang mudah. Ia menjelaskan untuk menjadi ketua umum PSSI harus memiliki dedikasi penuh dan memiliki pengetahuan yang luar biasa tentang sepak bola.

“Ini olahraga yang benar-benar memberikan hiburan kepada rakyat, tapi sekaligus harus memberikan edukasi, apa tujuan yang ingin dicapai. Jadi jangan omongin dulu lah PSSI satu dan sebagainya, karena itu harus benar-benar orang memiliki dedikasi penuh dan memiliki niat baik, itu sangat diperlukan,” terangnya.

Meski demikian ia mnyeoroti perkembangan sepak bola tanah air saat ini. Ia mencontohkan negara Australia yang penduduknya hampir sama dengan Palembang namun mampu memiliki fasilitas yang luar biasa.

“Kita juga memiliki fasilitas yang lebih luar biasa lagi, namun tinggal SDM (Sumber daya Manusia)-nya, masa ga bisa mencari 22 orang (pemain sepak bola). Yang penting memliki komitmen untuk memajukan, siapapun itu yang memimpin PSSI harus memiliki komitmen, jujur, memiliki pengetahuan, memiliki finansial yang cukup serta memiliki dedikasi penuh untuk memajukan sepak bola tanah air,” tegasnya.

Sekali lagi ia menegaskan, ajang Alex Noerdin Cup yang akan diselenggarakannya tidak terbesit niatan untuk menjadi ketua umum PSSI. Meski demikian ia tidak bisa memungkiri bahwa dirinya risau dengan perkembangan sepak bola tanah saat ini.

“Saya percaya, untuk memajukan olahraga itu kuncinya cuma satu, yakni pemasaran olahraga dengan kompetisi yang berkelanjutan dan terus meningkat hingga ke atas, hanya itu saja. Oleh sebab itu, kita mulai dari bawah dulu, namun saya tidak ada niat menyelenggarakan Alex Noerdin Cup ini untuk menjadi ketum PSSI, terniat-pun tidak, emang dikira mudah menjadi ketum PSSI,” tukasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here