Lahan Pertanian Kota Tergerus

0
sumber: sumeks.co.id

Sumselterkini.com – Perkembangan yang pesat sebagai kota metropolitan membuat lahan pertanian di wilayah Kota Palembang kian berkurang. Dari tahun lalu angkanya turun mencapai 10 persen.

Kepala Dinas Pertanian & Ketahanan Pangan Kota Palembang, Sayuti, mengatakan, saat ini luas lahan pertanian Palembang sekitar 5.400 hektare. “Angka itu berkurang sekitar 10 persen dibanding tahun 2017 lalu yang mencapai 6 ribu hektare,” terangnya, kemarin.

Sayuti mengaku ada pergeseran penggunaan lahan, dari lahan pertanian menjadi area perumahan atau lainnya. Ini mengingat perkembangan Kota Palembang yang kian pesat menjadi kota metropolis. Di antaranya juga karena ada pembangunan tol atau jalan serta proyek pemerintah pusat.

“Beberapa daerah yang dulunya memang daerah lahan pertanian padi seperti di Musi II itu sekarang sudah mulai banyak dipagari. Begitupun di kawasan Sematang Borang yang lahan pertaniannya banyak dikembangkan menjadi perumahan,” paparnya.
Karena lahan pertanian murni milik petani/masyarakat, pemerintah tak punya hak melarang hal ini terjadi. Hanya saja Dinas Pertanian mengupayakan agar hal ini tak terjadi, maka dilakukan sosialisasi kepada petani, apalagi seperti di kawasan Kertapati yang kini tepat dibangun tol.

“Kami memberikan sosialisasi kepada mereka jangan mudah tergiur tawaran pembelian lahan pertanian dari pengusaha atau lainnya. Karena bagaimana pun dari sektor pertanian ini merupakan mata pencarian, karena jika uang hasil tebusan tanah sudah habis, pencarian akan hilang,” paparnya.

Sedangkan tantangan peningkatan produksi dari cuaca, ia menerangkan, karena jenis lahan pertanian di Palembang yang merupakan lahan lebak. Yang mana masa tanam dan panen masih tergantung dengan cuaca. “Kalau padi lebak ini beda dengan padi yang dikembangkan dengan sistem kanalisasi maupun irigasi, tak bisa tanam dan panen berkali-kali. Normalnya hasil pertanian padi lebak 4 ton per hektare,” terangnya.

Meski begitu, tetap diusahakan untuk mendukung pemerintah dalam upaya khusus. Dilakukan peningkatan lewat masa panen dua kali, meski belum terlalu tinggi karena tidak semua daerah pertanian padi lebak di Palembang bisa dilakukan sejauh ini. “Kita lihat kondisinya, habis masa panen, kalau bisa di tanam dua kali dilakukan,” ujarnya.

Berkaitan dengan hasil pertanian padi di Palembang dengan tingkat kebutuhan konsumsi, lanjut dia, memang tak imbang. Karena dengan jumlah penduduk Palembang hampir mencapai 1,8 juta, kemudian tingkat kebutuhan Palembang 106 kg per kapita, maka kebutuhan mencapai 150 ribu ton.

Namun sebagai kota metropolis dengan latar jasa, maka pencapaian hasil pertanian padi kita sudah bagus, karena untuk mencukupi kebutuhan juga disuplai daerah lain seperti Banyuasin, OI, OKU Timur, dan daerah lainnya yang memang berbasis pertanian,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here