Perbaikan JSC Butuh Rp20 Miliar

0

Sumselterkini.com – Kerusakan sejumlah venue di kawasan Jakabaring Sport City (JSC) akibat hantaman puting beliung, ternyata benar-benar parah. Nilai kerugiannya cukup fantastis. Taksiran mencapai angka Rp20 miliar.

Paling parah venue atletik. Anggaran perbaikan mencapai Rp 6 miliar. Kerusakan tersebut diakibatkan, tiga unit lampu penerangan di dalam venue roboh. “Kerusakan di kawasan JSC ini terjadi di 14 titik venue. Butuh Rp20 miliar untuk memperbaikinya,” ujar Gubernur Sumsel, H Herman Deru, kemarin.

Kerusakannya beragam. Dari ringan hingga berat. “Anggaran perbaikan nanti pakai APBD Sumsel untuk kerusakan yang memakan masa perbaikan dalam jangka waktu yang lama,” beber Deru. Hanya saja, beberapa venue masih ada yang masuk masa garansi. Sebagian lagi juga belum diserahterimakan ke Pemprov Sumsel. Sehingga, proses perbaikan dilakukan oleh masing-masing pihak yang membangun venue tersebut.

“Seperti venue rowing. Itu ‘kan mau diserahterimakan besok. Tapi, karena ada kejadian ini akan diperbaiki dulu,” ungkapnya. Lalu venue lainnya seperti boling yang dibangun pakai dana CSR Sinar Mas. Lalu venue tenis yang dibangun PT Bukit Asam. “Masing-masing perusahaan akan membangun venue yang rusak itu.”

Untuk pendanaan APBD, Deru menerangkan akan memakai dana tanggap darurat. “Jika nanti ada pendanaan tanggap darurat atau dana penanggulangan bencana yang tersedia akan digunakan dulu,” ucapnya.

Perbaikan yang paling banyak menggunakan dana APBD kemungkinan besar dilakukan di venue aquatic. Pasalnya, venue tersebut pemeliharaannya sudah diserahkan ke Pemprov Sumsel. “Anggarannya mencapai Rp4 miliar,” bebernya.

Selama masa perbaikan, Deru menerangkan tidak akan menutup penuh area JSC. Hanya saja, untuk beberapa venue yang mengalami kerusakan akan dilakukan penutupan. “Tidak ditutup semua. Hanya sebagian saja. Targetnya sebelum akhir tahun, seluruh venue yang rusak sudah kembali seperti semula,” ucapnya.

Sementara untuk rumah warga Tegal Binangun yang rusak, Deru memerintahkan jajaran Dinsos dan BPBD untuk melakukan inventarisir. “Saya juga minta Bupati dan Wali Kota untuk turun tangan membantu warganya. Mengingat masih ada masalah perbatasan antara warga dan pemerintah. Anggaran dari pemprov sifatnya membantu,” bebernya.

Tak hanya meninjau kawasan JSC, Deru juga meninjau stasiun DJKA LRT Sumsel yang mengalami kerusakan. Deru mengharapkan perbaikan stasiun bisa segera dilakukan mengingat stasiun menjadi tempat naik dan turunnya penumpang. “Karena ini fasilitas publik, kami harap segera dilakukan perbaikan,” ucapnya.

Deru belum bisa memperkirakan penyebab kerusakan. Hanya saja, angin benar-benar kencang sehingga merusak beberapa bagian stasiun. “Kita belum bisa mengkategorikan kesalahan konstruksi dan semacamnya. Harus diakui, angin yang berhembus kemarin sangat kencang. Beruntung, bangunan masih dalam tahap pemeliharaan kontraktor. Sehingga tidak sampai menimbulkan kerugian negara,” terangnya.

Deru berencana untuk mengasuransikan seluruh bangunan yang menjadi aset Pemprov Sumsel. “Ini jadi pelajaran bagi kita. Nantinya, semua gedung akan diasuransikan. Sehingga, saat kejadian seperti ini bisa lekas dipulihkan,” tukasnya.

Bagian lain, PT JSC sudah menginventarisir kerusakan akibat hantaman angin kencang. Berdasarkan data, dari total 20 venue, 16 di antaranya mengalami kerusakan. Paling parah venue tenis. “Struktur atasnya terlepas akibat ditiup angin kencang.”

Untuk memperbaikinya maka harus dibuat struktur baru atap. Perkiraan menghabiskan Rp4 miliar. “Kerusakan ini baru prediksi karena nantinya akan dihitung lagi oleh ahli struktur berdasarkan aturan KemenPU,” katanya usai mendampingi Gubernur Sumsel, H Herman Deru meninjau kerusakan venue.

Selain venue tenis, kerusakan parah juga dialami di venue aquatic. Kerusakan ini juga terjadi pada atapnya yang terbuat dari membran didatangkan langsung dari Prancis.
Menurutnya, memang struktur atapnya tidak berubah. “Kita prediksi bisa menghabiskan Rp3,6 miliar hingga Rp4 miliar. Berikut venue atletik dimana dua tower lampunya roboh dan beberapa atapnya terlepas,” ujarnya.

Dikatakan, pihaknya akan membicarakan perbaikan dengan Pemerintah Provinsi Sumsel untuk menentukan langkah apakah perbaikan ini bakal ditanggung atau nantinya ada sistem pembiayaan lainnya.

Menurutnya, perbaikan ini bisa saja menggunakan sistem CSR seperti 70 persen. Ditanggung CSR dan 30 persen ditanggung pemda atau dengan sistem lainnya. “Kami akan berupaya untuk meminimalisir penggunaan APBD karena prosesnya akan panjang,” ujarnya.

Meskipun begitu, dirinya akan menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada Gubernur Sumsel. Rencananya, Senin besok (29/10) Gubernur akan membentuk satgas untuk menangani permasalahan ini. “Kita lihat saja nanti kalau sudah terbentuk tim satgasnya,” singkatnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here