Tiga Bom Terkena Anak Sendiri

0

Sumseterkini.com, Surabaya – Ledakan bom beruntun meledak di sebuah rumah kontrakan di Pogar, RT 1 RW 1 Bangil, Pasuruan, Jawa Timur. Bom itu diduga dibuat oleh penghuni kontrakan, Abdullah alias Anwardi (50). Ledakan itu melukai anaknya sendiri yang berusia sekitar 6 tahun.

Anwardi diketahui melarikan diri meninggalkan istrinya, Dina Rohana (40), dan anaknya yang terluka. Kepolisian akhirnya mengamankan Dina dan melarikan anaknya ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Anak tersebut diketahui masih selamat.

Informasi yang diterima Jawa Pos, sekitar pukul 11.30 salah seorang tetangga pelaku mendengar ledakan bom. Ledakan itu berasal dari rumah tetangganya yang mengontrak rumah milik Saprani. Setelah ledakan pertama itu, saksi mengecek ke rumah tetangganya.

Namun, saat mendekati rumah, saksi mencium bau mesiu. Kemudian terjadi ledakan kedua dan ketiga. Kapolda Jatim Irjen Pol Machfud Arifin, mengatakan mendengar hal itu, warga sekitar pun langsung menjaga jarak. Pelaku (Anwardi) juga sempat mengancam warga bahwa dia sedang membawa sebuah bom di ranselnya.

Tidak ada satu pun warga yang berani merangsek pria tersebut. ”Tapi sempat ada yang menembak pelaku dengan menggunakan senapan angin,” jelas Machfud. Timah panas tersebut, menyalak dari senapan angin milik salah satu warga. Merasa tidak bisa meringkus pelaku. Salah satu dari mereka berinisiatif, untuk menembak pelaku.

Meskipun begitu, hal tersebut tidak bisa menghentikan pelaku untuk melarikan diri. Sembari menahan rasa sakit, dia tetap menyalakan sepeda motornya, dan kabur. ”Jadi dia (pelaku, Red) kabur dalam keadaan berdarah-darah,” imbuhnya.

Setelah kabur, warga memutuskan untuk menggeledah isi rumah pelaku tersebut. Di situlah, saat dimana mereka menemukan seorang perempuan yang sedang menggendong anaknya. Sang anak, terluka di bagian kakinya. Diduga, luka tersebut, dihasilkan oleh ledakan bom. ”Jadi ledakan kedua dan ketiga itu yang mungkin mengenai kaki anaknya ini,” tukas Machfud.

Polisi pun datang, dan melarikan anak tersebut rumah sakit terdekat. Sampai saat ini, dia masih dirawat intensif di rumah sakit terdekat. Sedangkan, istri pelaku, Dina Rohana masih dalam pemeriksaan polisi. Machfud menjelaskan, bom yang diledakan itu memiliki daya ledak rendah. Karena bom itu tidak merusak seisi rumah secara keseluruhan.

Dia membenarkan bahwa ada serpihan gotri dan paku yang ada di lokasi. Ini mengindikasi, isi dari bom tersebut. Karena berdaya ledak rendah, pelaku berniat untuk meningkatkan daya bahayanya. ”Ada paku dan gotri berserakan di TKP memang,” tegasnya Ransel yang dikenakan oleh pelaku juga diduga kuat sebagai bom rakitannya juga.

Kesimpulan bahwa pelaku terkait dengan jaringan teroris disimpulkan bukan hanya dari bom yang diledakan. Tapi juga, adanya buku-buku terkait jaringan teroris yang ditemukan di dalam rumah kontrakan tersebut. Anwardi diduga lahir di Aceh, dan berdomisili di Pandeglang, Banteng. Istrinya, merupakan warga Sidoarjo. “Pasangan suami istri tersebut, hanya tinggal di kontrakan tersebut selama setahun setengah,” tambahnya.

Karopenmas Divhumas Polri Brigjen M. Iqbal menambahkan, hingga saat ini Anwardi masih dikejar. Belum diketahui terkait dengan jaringan mana. ”Masih didalami, yang penting tidak ada korban lainnya,” papar mantan Kapolrestabes Surabaya tersebut.

Sementara Pengamat Terorisme Al Chaidar menuturkan bahwa kelompok teror yang masih aktif saat ini di Indonesia hanya Jamaah Ansharut Daulah (JAD). ”Ya, pasti JAD lagi,” terangnya kepada Jawa Pos kemarin.

Kejadian meledaknya bom di rumah pelaku menunjukkan bahwa kemampuan membuat bom dari pelaku sangat minim. Yang artinya, kemampuan membuat bom ini belum terpengaruh dengan para mantan kombatan ISIS yang telah pulang ke Indonesia. ”Kan ada yang sudah kembali, walau ada pula yang belum tentu sampai ke Suriah sudah terhadap pemerintah Turki,” paparnya.

Dia menuturkan, bila kemampuan mereka sudah dipengaruhi para mantan kombatan. Tentunya, daya ledak bom itu akan lebih besar, sekaligus tidak akan meledak di dalam rumah. ”Ya, tidak meledak saat dirangkai,” terangnya.

Bom yang meledak di rumah pelaku sendiri sebenarnya terjadi berulang kali. Seperti bom Cimanggis. Bahkan, pemimpin ideologis JAD Amman Abdurrahman juga pernah ditangkap karena bom meledak di rumahnya sendiri. ”Ini artinya, kemampuan teroris masih tumpul. Ya, tidak jauhlah seperti bom Solo yang meledakkan diri, tapi kena sendirian. Ini malah melukai anaknya,” jelasnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here