Lebak Kering, Sulitkan Pemadaman

0
sumber: sumeks.co.id

Sumselterkini.com – Beberapa hari terakhir, udara di Palembang terasa pekat dan asam di malam hari. Meski asap tidak terlalu tebal. Ternyata berdasar data Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), sebaran hotspot di Sumsel pada Jumat (14/9) mencapai 88 titik.

Terbanyak, di Kabupaten OKI dengan sebaran 60 hotspot pada data yang diupdate per Sabtu (15/9) pukul 05.30 WIB. Disusul dengan Banyuasin 10 titik, OKU 6 titik, OKU Selatan 4 titik, Muba 3 titik, Ogan Ilir 1 titik dan lainnya (lihat grafis). “Saat ini waterbombing difokuskan di (kecamatan) Tulung Selapan,” aku Tri Prayogi SHut, Kepala Manggala Agni Daops OKI, kemarin (15/9).

Selain di Kecamatan Tulung Selapan yang paling banyak, dikatakannya hotspot juga tersebar di Kecamatan Cengal, dan Pangkalan Lampam yang memang sebagai besar lahan gambut. “Kalau luasnya (yang terbakar,ed) belum teridentifikasi karena masih dilakukan pemadaman,” katanya.

Penarikan pasukan TNI beberapa hari lalu dari 13 posko pemadaman terpadu (patdu), disebutnya cukup berpengaruh. Sehingga hotspot bertambah. Namun kata Tri, ke 13 posko patdu tersebut sudah ditempati lagi dan sudah terisi semua personelnya. “Rencananya Senin (17/9) akan ditambah lagi 4 posko patdu, yang akan ditempatkan di titik rawan lainnya,” tegasnya.

Dandim 0402/OKI, Letkol Inf Seprianizar SSos, menambahkan berbagai upaya maksimal dalam memadamkan api karhutbunla terus dilakukan. Hingga saat ini, ada 50 personel dari Batalyon Infanteri 141/AYJP Muara Enim disebar ke berbagai titik rawan Karhutla OKI. ”Pasukan Brimob diperpanjang hingga 31 Oktober. Kemudian, akan ditambah lagi 130 personel TNI,” jelasnya.

Menurutnya, satelit LAPAN fire spot terkadang lebih sedikit memantau hotspot dari yang ada di lapangan, itu berkat kerja keras semua elemen. Mulai dari Manggala Agni, TNI, Polri, Masyarakat Peduli Api (MPA) pihak perusahaan yang sudah lebih dulu berjibaku melakukan pemadaman. “Sehingga titik fire spot yang tidak terpantau, sudah lebih dulu dipadamkan,” sebutnya.

Lanjut dia, karhutbunla juga terjadi di Desa Pulau Gemantung, Kecamatan Tanjung Lubuk dengan vegetasi ilalang, anak gelam, belidang dan semak belukar jenis lahan gambut tipis dengan koordinat -3.53516104.70904. Seluas lebih kurang 17 hektare, pemadaman masih dilakukan. Sedangkan seluas 3 hektare sudah berhasil dipadamkan, di Desa Pelimbangan, Kecamatan Cengal, berupa lahan persawahan gambut.

Karhutbunla juga terjadi di Desa Simpang Empat, Kecamatan Jejawi. Di lahan milik masyarakat, berupa pohon gelam, belidang, purun brondong , seduduk dan semak belukar dengan gambut tipis. Luasnya lebih kurang 100 hektare. Ada juga di Desa Perigi, Kecamatan Pangkalan Lampam. Di lahan masyarakat, juga vegetasi semak belukar jenis gambut luas lebih kurang 10 hektar.

Terpisah, Dansatgas Penanggulangan Bencana Karhutbunla Sumsel, Kolonel Inf Iman Budiman SE ,mengatakan masa tanam yang terhitung tinggal menyisakan dua pekan lagi. Menjadi alasan sejumlah petani untuk melakukan pembakaran. Menurut Iman, masyarakat selama ini telah menahan diri untuk membuka lahan sebagai upaya menyukseskan Asian Games.

Setelah Asian Games selesai, petani mulai membuka lahan sehingga petani bisa memulai masa tanam saat Oktober mendatang. Dengan cara tradisional, menggunakan metode Bakar Tunggu. Dimana, sampah atau bekas tanaman dikumpulkan di tengah lahan lalu dibakar hingga api padam. “Melalui metode ini, api bisa lebih dikontrol dan tidak akan menyebar ke lahan di sebelahnya. Pembakaran lahan ini, berada dalam kontrol satgas,” sebutnya.

Pembukaan lahan dengan cara membakar memang salah. Hanya saja, pemerintah selama ini belum memberikan solusi kepada petani. Khususnya yang lahannya berada di pelosok mengenai metode yang tepat dalam membuka lahan. “Mau tidak mau, suka tidak suka pembakaran lahan menjadi solusi jangka pendek yang dimiliki petani,” tukas Iman, yang juga Danrem 044/Gapo.

Upaya untuk mengirimkan peralatan berat pun sebenarnya sudah dilakukan. Namun, solusi ini malah menimbulkan permasalahan baru. Lokasi lahan petani banyak yang sulit diakses. Sehingga alat berat tidak bisa masuk. Sementara saat dilakukan pembukaan lahan di lokasi yang bisa diakses, ada kecemburuan diantara petani. “Nah, ini malah memicu timbulnya konflik yang berujung membakar lahan dengan cara sembarangan dan tidak terkontrol,” bebernya.

Menurut Iman, kebakaran lahan dalam sepekan terakhir mengalami intensitas yang cukup tinggi. Menurutnya, beberapa lahan yang terbakar berada di kawasan yang tak bertuan. “Kalau petani hanya sebagian kecil saja. Kebakaran masih tetap di lahan gambut yang tak bertuan. Tapi kami terus berupaya keras untuk melakukan pemadaman,” ucapnya.

Tak ditampiknya, penarikan personel bantuan dari Mabes TNI dan Polri juga membuat kekuatan personel di lapangan sempat mengalami kendala. “Dari 475 personel, sudah ditarik 200 personel. Posisinya langsung digantikan dari Yonif 141/AYJP. Proses pergantian ini sempat membuat penanggulangan personel di darat menjadi berkurang. Tapi sekarang sudah normal lagi,” akunya.

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Marwan Dasopang , menjelaskan kunjungan yang dilakukannya untuk melihat secara langsung permasalahan yang dialami kawasan rawan Karhutla. Sehingga, nantinya dibuat kebijakan yang bisa digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Dari paparan sejumlah pihak yang didapatnya, motif ekonomi menjadi dasar masyarakat untuk membakar lahan.

“Mereka membuka lahan untuk menanam. Pemerintah harus hadir untuk mengadvokasi ekonomi masyarakat. Selain itu, faktor cuaca juga jadi penyebab menyebarnya kebakaran lahan,” ucapnya.

Kepala BPBD Sumsel, Iriansyah menuturkan salah satu cara untuk menangani permasalahan Karhutla ini dengan memberikan porsi lebih dana desa ke kawasan yang rawan. Dana desa tersebut nantinya bisa digunakan untuk penanggulangan kebakaran. “Aturannya dibuat dulu. Berapa persen dana desa wajib disalurkan menanggulangi kebakaran lahan di desanya. Sehingga dengan sendirinya, masyarakat akan menjaga lahan di desanya agar tidak terbakar,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here