PERAN PENDIDIKAN DALAM PERTUMBUHAN EKONOMI

0

Sumselterkini.com – Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan salah satu indikator pertumbuhan ekonomi suatu negara. Kualitas SDM suatu negara dapat mempercepat atau justru memperlambat proses pertumbuhan ekonomi. Sebagai contoh, ketika suatu negara memiliki peningkatan jumlah pengangguran terhadap penduduknya maka negara tersebut dapat dikatakan sedang mengalami kemunduran. Penurunan kualitas sumber daya manusia menyebabkan peningkatan jumlah pengangguran yang diperparah dengan semakin sedikitnya lapangan pekerjaan. Meningkatnya pengangguran bisa memicu semakin tingginya kemiskinan masyarakat. Hal ini tentu saja akan berpengaruh terhadap permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa dari suatu bisnis atau perusahaan. Masyarakat akan cenderung menghemat pendapatannya dan hanya membelanjakannya untuk hal-hal yang primer saja.

Salah satu upaya dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia adalah melalui peningkatan kualitas pendidikan. Pendidikan memiliki peran yang penting dan strategis dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia. Bahkan lebih jauh lagi telah mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi, baik bagi individu, masyarakat maupun pemerintah. Hal ini berdasar pada pertimbangan bahwa pendidikan sebagai suatu institusi yang menyediakan tenaga kerja yang sesuai keahliannya dan/atau bahkan mempersiapkan masyarakat dengan keterampilan-keterampilan yang diperoleh sehingga mampu membuka dan memperluas lapangan kerja itu sendiri.

Pembangunan pendidikan berarti pembangunan sumber daya manusia dari yang belum terdidik menjadi manusia terdidik. Manusia yang sudah memperoleh pendidikan ditingkatkan kualitasnya dari yang mempunyai pendidikan umum diarahkan pada pendidikan keahlian atau keterampilan tertentu. Investasi dalam pendidikan berarti investasi sumber daya manusia yang secara ekonomi tingkat pengembalian keuntungannya tidak secepat pengembalian ekonomi. Tetapi terasa dengan tingginya kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan pendidikan akan menambah pertumbuhan ekonomi. Hal ini bukan saja karena pendidikan akan berpengaruh terhadap produktivitas, tetapi juga akan berpengaruh terhadap fertilitas masyarakat. Pendidikan dapat menjadikan sumber daya manusia lebih cepat mengerti dan siap dalam menghadapi perubahan dan pembangunan suatu Negara. Hampir semua negara berkembang menghadapi masalah kualitas dan kuantitas sumber daya manusia yang diakibatkan oleh rendahnya mutu pendidikan. Hal ini ditunjukkan oleh adanya tingkat melek huruf yang rendah, pemerataan pendidikan yang rendah, serta standar proses pendidikan yang relatif kurang memenuhi syarat. Di negara-negara maju, perhatian pemerintahnya terhadap pembangunan sektor pendidikan sangat besar, misalnya komitmen politik anggaran sektor pendidikan tidak kalah dengan sektor lainnya, sehingga keberhasilan investasi pendidikan berkorelasi dengan kemajuan pembangunan makronya.

Menurut mantan Presiden Bank Dunia, Jim Yong Kim, pendidikan adalah bahan bakar untuk mendorong pertumbuhan perekonomian di berbagai negara, sehingga pihak swasta dan pemerintah juga harus bekerja sama meningkatkan kualitas pendidikan. Sebagai contoh, Korea Selatan (Korsel) yang merupakan tempat kelahirannya itu, segera setelah perang Korea di tahun 1950-an, ditemukan sebanyak 78% warga disana berada dalam kondisi buta huruf. Selain itu, tingkat penghasilan per kapita Korsel di tahun 1970 sekitar USD 200. Kemudian, Korsel menyadari bahwa pendidikan adalah cara yang paling efektif untuk keluar dari kesengsaraan kondisi ekonomi sehingga pemerintah berfokus memperbaharui sekolah dan berkomitmen meningkatkan setiap anak dengan baik. Saat ini Korsel memiliki tingkat pengetahuan akan huruf sebesar 98%, dan negara itu merupakan negara berpenghasilan tinggi serta model bagi kesuksesan pembangunan ekonomi. Maka daripada itu, negara – negara lain juga perlu melakukan investasi yang sangat besar terutama pada masa – masa awal, karena dinilai memiliki dampak yang mendalam dan berlangsung abadi terhadap perkembangan otak mereka.

 

Kendala

            Menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Data yang dilaporkan The World Economic Forum Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing yang rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia. Setidaknya ada beberapa permasalahan yang bisa teridentifikasi dalam dunia pendidikan kita, yaitu : rendahnya kualitas sarana fisik, rendahnya kualitas guru, rendahnya kesejahteraan guru, rendahnya prestasi siswa, rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan, rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan, dan mahalnya biaya pendidikan.

 

 

Upaya Pemerintah

            Belajar dari beberapa negara maju pemerintah Indonesia harus mengambil langkah-langkah strategis dalam upaya membangun pendidikan nasional. Investasi di bidang pendidikan secara nyata akan mendorong kemajuan ekonomi dan menciptakan kesejahteraan sosial.

Pemerintah mempunyai peran aktif dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan agar SDM yang dihasilkan dapat menjadi sumber untuk pembangunan negara maupun daerah, dan salah satu usaha pemerintah untuk memajukan pendidikan yaitu dengan mencanangkan program wajib belajar sembilan tahun. Hal ini diatur dalam undang-undang, yaitu Undang-Undang No. 20 tahun 2003 yang menyatakan bahwa setiap warga negara yang berusia 7 sampai dengan 15 tahun wajib mengikuti pendidikan dasar, tidak boleh ada dropout karena alasan biaya.

Setiap tahun pemerintah mengalokasikan APBN untuk Anggaran Pendidikan untuk meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan ditanah air. Alokasi Anggaran Pendidikan dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2019 selalu mengalami peningkatan kecuali pada tahun 2017 yang mengalami penurunan yang tidak signifikan, dan di tahun 2019 Alokasi anggaran Pendidikan mencapai 492,5 Triliun Rupiah (20% dari Belanja APBN 2019). Alokasi Anggaran tersebut memiliki 4 sasaran target yaitu:

  1. Program Indonesia Pintar untuk 20,1 juta Jiwa;
  2. Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk 57 juta jiwa;
  3. Pembangunan / Rehab Sekolah / Ruang Kelas sejumlah 56,1 ribu;
  4. Beasiswa Bidik Misi untuk 471,8 ribu Mahasiswa.

Hal ini tentunya menjadi bukti keseriusan Pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan agar kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia mengalami peningkatan. Dengan pendidikan yang berkualitas akan berefek secara langsung maupun tidak langsung terhadap pertumbuhan Ekonomi.

Hubungan investasi sumber daya manusia (pendidikan) dengan pertumbuhan ekonomi merupakan dua mata rantai. Namun demikian, ekonomi tidak akan bisa tumbuh dengan baik walaupun peningkatan mutu pendidikan atau mutu sumber daya manusia dilakukan, jika tidak ada program yang jelas tentang peningkatan mutu pendidikan dan program ekonomi yang jelas. Oleh karena itu, butuh dukungan dari seluruh pihak yang terlibat mulai dari Pemerintah hingga masyarakat agar ekonomi Indonesia dapat tumbuh dengan optimal.

OLEH: EKKY DIO KURNIA GANI

MAHASISWA POLITEKNIK KEUANGAN NEGARA STAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here